DIBUKANYA pendaftaran masuk di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta seakan menjadi suasana “gegap gempita” bagi sejumlah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berhasil lulus Ujian Nasional (UN) dan ingin melanjutkan studi di peguruan tinggi. Pasalnya, kebanyakan dari mereka tentu menginginkan kampus yang dianggap berkualitas dan memiliki gengsi yang cukup tinggi. Maka, di situlah terjadi suasana saling berlomba-lomba meraih perguruan tinggi terbaik.
Akan tetapi, ada hal kurang etis dalam upaya meraih perguruan tinggi yang dianggap bergengsi itu. Karena banyak dari lulusan SMA ini berkantong cukup tebal, mereka bisa meraih perguruan tinggi yang cukup bergengsi, cukup dengan membayar biaya tinggi. Prosedur ujian yang mereka ikuti pun sekadar formalitas belaka. Jalur seperti ini seakan-akan memberi peluang bagi orang kaya yang tidak cukup pintar untuk bisa masuk di kampus favorit.

